“HATI YANG MENCARI” subhiceria

Menjaga Perut

Posted on: Mei 31, 2008

Pada suatu hari Kholid bin Walid menyuguhkan makanan kepada kholifah Umar bin Khottob. “Makanan ini untukku”? tanya Umar. “Mana makanan untuk orang-orang miskin dan kaum muhajirin yang acap kali mati kelaparan,” tanya Umar lagi.

“Mereka mendapat surga tuan,” jawab Kholid.

“Kalau mereka mendapat surga, sedangkan kita hanya mendapat makanan ini, mereka sungguh lebih beruntung daripada kita.” tegas Umar.

Kisah ini menunjukan kepada kita bahwa hidup ini sesungguhnya bukan hanya soal perut. Seorang muslim, seperti di contohkan Umar, tidak boleh terpedaya oleh kenikmatan sesaat yang bersifat duniawi, tetapi ia harus selalu ingat akan tujuan hidup yang sebenarnya, yaitu kebahagian abadi di akhirat kelak.

Untuk mencapai tujuan ini, seorang muslim, seperti yang ditunjukan Umar tadi, harus mampu menjaga dan mengendalikan perutnya. Mengapa perut? Jawabnya, karena secara rohani perut merupakan salah satu organ tubuh yang paling sulit dikendalikan. Ia paling banyak menuntut, memakan biaya besar, dan sangat berbahaya karena ia merupakan sumber lahirnya keinginan-keinginan untuk syahwat.

Dalam kitab minhaj al-‘abidin, imam Ghazali mengingatkan agar seorang muslim mampu menjaga perutnya, terutama dari hal ini. Pertama, dari semua perkara yang haram dan syubhat. Kedua, dari berfoya-foya atau berpuas-puas diri meskipun dari perkara yang halal.

Larangan pertama harus dijajuhi, karena dalam Islam pemakan barang haram diancam dua keburukan besar. Pertama, siksa api neraka. Firman Allah: “sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara dholim, sebenarnya mereka itu memakan api sepenuh perutnya dan mereka akan masuk kedlam api yang menyala-nyala yaitu api neraka.” (An-Nisa: 10).

Kedua, ibadah dan kebaikannya tertolak(mathrud). Hal ini, karena Allah SWT adalah Tuhan Yang Mahasuci. Ia tidak akan menerima kecuali hamba-Nya yang suci. Itu sebabnya, kata Ghozali, orang yang junub tak boleh masuk mesjid(An-Nisa:43) dan orang yang hadats tak boleh menyentuh Al-Qur’an (Al-Waqi’ah: 89).

Larangan kedua, berfoya-foya atau berpuas-puas diri harus pula dijauhi karena hal ini mengandung keburukan-keburukan yang amat banyak. Imam Ghozali menyebutkan sepuluh keburukan, diantaranya, hati orang yang berbuat demikian menjadi keras dan mati. Ibarat tanaman, kalau terendam banjir, ia pasti mati.

Mari kita berdo’a mengharapkan pertolongan Allah semoga kita bisa menjaga perut kita.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

kalender

Mei 2008
S S R K J S M
    Jun »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Pilih JUDUL yang anda cari

Komentar Terbaru

Blog Stats

  • 138,209 hits

Klik pengunjung

  • Tak ada

menggapai singgasana hati

%d blogger menyukai ini: