“HATI YANG MENCARI” subhiceria

Kabar gembira tuk rakyat miskin

Hidrofuel

 

Dalam soft launching di kompleks Kampus Terpadu UMY tersebut, Rektor UMY Dr. Khoiruddin Bashori dan Bupati Bantul Idham Samawi menjajal kemampuan sepeda motor yang menggunakan produk hidrofuel “Banyugeni”. Bukan hanya sepeda motor, produk hidrofuel ini juga diujicobakan di berbagai media, seperti lampu minyak (teplok), kompor, traktor, dan aeromodelling.

Hidrofuel “Banyugeni” adalah temuan dari lima peneliti UMY, yakni Drs. Purwanto, Ir. Bledug Kusuma Prasadja MT, Ir. Tony K. Haryadi MT, Ir. Lilik Utari MS, dan Dra. Nike Triwahyuningsih MP. Hidrofuel hasil penelitian UMY yang telah dipatenkan ini terdiri atas beberapa varian produk, yakni hidrokerosene (setara dengan minyak tanah), hidrodiesel (solar), hidropremium (bensin), dan hidroavtur (bahan bakar jet). Sama seperti yang dilakukan pada sepeda motor, percobaan pada tiga varian lainnya juga berhasil dengan sempurna.

Penelitian yang dilatarbelakangi oleh semakin tingginya harga minyak mentah di pasaran dunia ini sudah dilakukan semenjak tahun 2003. Untuk menjadikan air sebagai bahan bakar, diperlukan empat “perlakuan” yang disebut teknologi mekanotermal-elektrokemis. Proses ini melalui empat tahapan, yaitu mekanik (gerak), thermal (panas), listrik, dan kimiawi. Pengertian kimiawi dalam proses ini adalah memberikan “bahan lain” yang dapat menjadikan air bisa menyala. Tidak diberitahukan lebih lanjut, apa yang dimaksud dengan “bahan lain” itu.

Untuk bisa terbakar, ada beberapa proses kimiawi yang harus dilalui. Secara kajian ilmiah, air (H2O) terdiri atas beberapa molekul yang bisa terbakar. Unsur air bisa dipisahkan secara kimiawi, sehingga menjadi molekul 2H2 + O2. Unsur hidrogen (H2) inilah yang bisa menyala, bahkan bisa meledak. Selain itu, unsur oksigen (O2) juga merupakan molekul yang sangat berpengaruh dalam pembakaran.

Di samping sebagai bahan bakar alternatif, keunggulan lain dari hidrofuel ini adalah juga ramah lingkungan. Pada percobaan yang dilakukan di PT CoreLab Indonesia, sebuah laboratorium internasional yang independen, produk ini telah memenuhi standar Ditjen Migas, antara lain tidak korosif (tidak menyebabkan karat), tidak meninggalkan residu, serta kandungan sulfur dan timbal yang dihasilkan lebih rendah dari yang diperbolehkan.

Sayangnya, tidak disebutkan secara rinci berapa anggaran yang dibutuhkan untuk mengubah air menjadi bahan bakar. Akan tetapi, jika diproduksi secara massal, anggaran yang dikeluarkan bisa ditekan sedemikian kecil. Karena, pada prinsipnya, yang digunakan sebagai bahan dasar adalah air, yang jumlahnya tidak terbatas. Bukan seperti fosil. Pemkab Bantul menegaskan siap mengalokasikan anggaran untuk pengembangan penelitian ini. Namun, bukankah seharusnya tidak hanya APBD, tapi APBN juga layak untuk membiayai penelitian ini?

Sumber: Republika (Kamis, 24 mei 2008)

<!– –>

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

kalender

Desember 2016
S S R K J S M
« Jan    
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Pilih JUDUL yang anda cari

Komentar Terbaru

Blog Stats

  • 138,209 hits

Klik pengunjung

  • Tak ada

menggapai singgasana hati

%d blogger menyukai ini: